Leeuwarden adalah ibukota propinsi Friesland di Belanda bagian utara yang namanya tentu terdengar asing di telinga. Namun setiap berkunjung ke Belanda, saya bersama keluarga selalu tak lupa untuk mampir ke Leeuwarden sekedar untuk napak tilas dan mengulang memori saat saya dan suami tinggal di sana. Ternyata masih saja ada saja kisah yang terlewat dan belum saya ketahui tentang kota yang berada jauh di ujung utara Belanda. Leeuwarden yang menjadi European Capital Culture tahun 2018 ini banyak menyimpan kisah dan sejarah menarik yang tak jarang juga erat kaitannya dengan Indonesia.
Salah satu kisah menarik itu adalah tentang Mata Hari, seorang spionase wanita paling terkenal di dunia lahir di Leeuwarden. Sejak lama kisah hidup Mata hari telah banyak menjadi inspirasi karya sastra dan film. Matahari memiliki kisah yang sangat menarik sehingga tahun 2016 penulis terkenal Paul Coelho pun turut membuat sebuah karya novel tentangnya berjudul, The Spy. Coelho menyebut Mata Hari sebagai salah satu feminis pertama yang memilih untuk independen dan menjalani hidup di luar kebiasaan masyarakat pada zamannya.
 |
| Pusat Kota Leeuwarden |
Kisah Mata Hari sangat kontroversial dan hingga kini masih terus ditelusuri kebenaran fakta-fakta yang mengaitkannya dengan dunia spionase. Selama 20 tahun terakhir dokumen-dokumen tentang hal ini mulai dibuka oleh MI5 di Inggris, Jerman dan Belanda. Terlahir dengan nama Margaretha Geertruida Zelle pada 7 Agustus 1876 dan disebut-sebut memiliki darah keturunan Jawa. Terlepas dari benar atau tidaknya hal tersebut, Margaretha adalah wanita yang sangat menarik dengan rambutnya yang hitam tebal, matanya yang hitam dan kulitnya yang sedikit kecoklatan; sangat berbeda dengan ciri-ciri fisik orang Friesland atau Belanda pada umumnya yang berambut pirang dan berkulit putih.
Ia pernah tinggal di Jawa dan Sumatra untuk menemani suaminya yang dua puluh tahun lebih tua; seorang tentara Belanda masa kolonial yang bertugas di Hindia Belanda (Indonesia) pada masa itu. Margaretha memiliki ketertarikan yang besar terhadap tradisi lokal dan sempat belajar menari. Mata Hari merupakan nama yang erat dengan Indonesia yang kemudian dipilih Margaretha untuk aksi panggungnya sebagai penari eksotis dan mulai terkenal di Paris tahun 1905. Kesuksesan membuatnya dekat dengan banyak orang penting dimana pada akhirnya mengaitkan Mata Hari dengan dunia spionase yang kemudian membuat hidupnya terpaksa berakhir.
 |
| "Mata Hari" di dekat rumah kelahirannya |
Saat berkunjung ke Leeuwarden saya mencoba untuk menelusuri sepenggal kisah masa lalu Mata Hari di kota kelahirannya ini. Sebuah patung wanita berukuran kecil yang seolah sedang menari dibuat untuk mengenang kisahnya. Sekilas tidak ada yang istimewa dengan patung berukuran kecil itu, sampai saya membaca nama “Mata Hari” yang tertera di tiang yang menjadi penyangganya. Patung itu berdiri tepat bersebelahan dengan kanal di depan rumah tempat Mata Hari lahir, beralamat di Kelders 33 di pusat kota Leeuwarden. Rumah yang pernah menjadi saksi bisu kehidupannya di masa kecil itu sekarang sudah beralih fungsi menjadi tempat usaha seperti bangunan-bangunan lain di sekitarnya.
Selain patung tersebut yang menjadi tanda bahwa ia memang merupakan salah satu orang yang sejarahnya penting untuk kota ini dapat dilihat di Fries Museum yang terletak di pusat kota. Di museum tersebut terdapat sebuah ruangan khusus yang didedikasikan untuk Mata Hari, koleksi yang dapat dilihat adalah pakaian yang pernah digunakan Mata Hari saat menari dan catatan hariannya. Saya pernah melihat catatan harian tersebut saat masih berada di Historisch Centrum Leeuwarden dan masih dalam proses konservasi. Hari itu saya beruntung karena bisa melihat lagi koleksi museum dengan lebih jelas.
Saya menyempatkan diri untuk mampir ke Fries Museum untuk melihat ruangan tersebut. Saat memasuki ruangan, saya juga dapat melihat slide foto-foto Mata Hari berukuran besar diiringi suara gending gamelan Jawa yang memecah kesunyian dan membuat saya sedikit terhanyut dalam lamunan. Semua koleksi museum yang ada membuat saya dapat membayangkan suasana pertunjukkan Mata Hari di masa lampau yang pasti sungguh menarik bagi yang menyaksikan secara langsung. Tak lama pengunjung lain bergantian memasuki ruangan, saya pun segera mengakhiri lamunan melanjutkan untuk melihat-lihat koleksi museum yang lain. Semoga lain waktu saya bersama suami dan anak-anak bisa kembali lagi melakukan napak tilas ke Leeuwrden dan menggali kisah-kisah lainnya yang terkait dengan Indonesia di kota ini.
|
|
Suasana Eleve saat makan malam
|
Setelah berkeliling Leeuwarden, Netherlands hari sudah sore dengan cuaca yang dingin dan berangin. Tak lama lagi adalah saatnya untuk makan malam, mengingat kondisi cuaca yang ada suami menyarankan agar kami makan malam di hotel saja. Tadinya saya hanya akan memesan room service, namun suami mengajak saya dan si kakak untuk makan malam di restoran yang ada di hotel. Eleve nama restoran yang ada di Westcord WTC Hotel Leeuwarden tempat kami menginap. Siapa nyana ternyata restoran itu memiliki one Michelin star. Kami pun berpakaian agak rapih agar lebih sesuai untuk makan malam di Eleve. Suasana restoran nyaman dan hangat dengan contemporary design yang ramah untuk anak-anak dan penyandang disabilitas. Panorama Leeuwarden pun dapat dilihat dari setiap sudut restoran ini. Membuat suasana makan malam kami menjadi lebih menyenangkan sekaligus romantis sambil mengingat kenangan saat saya dan suami tinggal di Leeuwarden.
 |
Appetizer: Carpaccio of Frissian beef, fresh salad, tomato and black olives
|
Eleve berada di lantai 11, kami disambut pelayan ramah yang langsung mengantarkan kami ke meja. Sebelumnya suami saya telah melakukan reservasi, memang restoran pada saat itu tidak ramai namun reservasi tetap disarankan saat akan makan di restoran ini. Di atas meja semua peralatan makan dan gelas wine sudah lengkap tersedia. Saya meminta agar gelas wine yang tidak digunakan si kakak untuk diangkat. Setelah itu pelayan memberikan buku menu dan menyarankan beberapa makanan yang menjadi andalan di Eleve. Saya dan suami memilih 3-course menu yang terdiri dari appetizer/ soup, main course dan dessert. Sementara si kakak bebas icip-icip sana sini. Semua makanan utama disajikan dengan salad, vegetables and potato garnish of the day. Jadi si kakak juga mendapatkan tambahan french fries yang sudah termasuk dalam set menu. Belakangan saya mengetahui kalau semua makanan di Eleve menggunakan bahan organik lokal.
 |
Main course: Chicken satay with fried rice, prawn crackers and satay sauce
|
Saya memesan Carpaccio, daging sapi yang disajikan mentah sebagai makanan pembuka ala Italy. Rasanya sangat enak dan pas untuk lidah saya karena juga disajikan dengan salad. Saat memilih makanan utama, mata saya tertuju pada menu nasi goreng. Sangat mudah menemukan makanan Indonesia di Netherlands. Berhubung si kakak ingin makan nasi, jadilah ini sebuah alasan untuk mencicipi nasi goreng ala one Michelin star. Pastinya rasa nasi goreng pinggiran atau restoran biasa di Indonesia lebih sedap, tapi ini juga patut dicoba untuk menambah pengetahuan dan agar tidak penasaran. Selain rasa nasi goreng, cara penyajiannya juga sudah disesuaikan dengan selera lokal. Nasi goreng memang disajikan lengkap dengan sate ayam, telur mata sapi dan krupuk udang, namun dengan porsi sate ayam yang cukup besar dan nasi goreng yang tidak terlalu banyak. Sebagai hidangan penutup saya memilih Dame blanche, yaitu sebutan untuk es krim vanilla yang disajikan ala Belgium/ Netherlands. Rasa saus coklatnya sangat pas, namun yang membuat es krim ini menjadi spesial adalah remahan Friese Dumkes yaitu kue khas Frissian.
 |
Dessert: Dame blanche with chocolate sauce, vanilla ice cream and 'Friese Dumkes'
|
Suami saya memesan menu yang berbeda untuk makanan pembuka, smoke salmon with creme of chive and cream cheese dan schnitzel with stroganoff sauce sebagai makanan utama. Pengalaman makan malam di Eleve sangat menarik karena menu yang ditawarkan merupakan perpaduan masakan dari berbagai negara. Semua makanan disajikan dengan cantik dan rasanya boleh dibilang enak, walaupun mungkin sudah berbeda dari rasa aslinya karena disesuaikan dengan selera lokal. Menurut saya pengalaman makan di Eleve ini bisa diulang kembali untuk mencicipi menu-menu lain yang tidak kalah menarik. Terdapat beberapa pilihan menu ala carte atau set menu mulai dari 3-course menu sampai 6-course menu. Untuk saya 3-course menu sudah cukup mengenyangkan, mungkin lain waktu saat benar-benar lapar saya bisa mencoba 6-course menu.
 |
| Pemandangan panorama Leeuwarden saat sarapan |
Sebenarnya untuk melihat pemandangan panorama Leeuwarden juga dapat dilakukan saat sarapan dan lebih leluasa karena sarapan disajikan secara buffet. Namun tentunya suasananya yang didapatkan sangat berbeda dengan suasana saat makan malam. Eleve buka hanya untuk makan malam setiap hari Senin - Jumat pukul 17:00 - 21:00. Sementara untuk hari Sabtu dan Minggu buka mulai pukul 11:00, dan tetap buka untuk tamu hotel setiap hari saat sarapan. Saya menyarankan untuk mencoba makan di waktu buka yang berbeda untuk merasakan suasana yang lain. Restoran ini juga dilengkapi dengan bar yang baru dibuka pukul 5:00 sore. Untuk keterangan lebih lanjut mengenai Eleve dapat diperoleh melalui
website.